Kami meminta pembaca memilih momen favorit Piala Dunia 1978 dan mayoritas memilih kegemilangan Mario Kempes.

OLEH
RUPERT FRYER PENYUSUN
AGUNG HARSYA Hanya sejarak ujung sepatu. Kurang dari seinci saja. Keunggulan fisik ini yang patut disyukuri masyarakat Argentina saat merayakan gelar juara dunia pertama mereka. Kalau saja kaki Mario Kempes beberapa centimeter lebih pendek, mungkin hasil pertandingan bakal lain. Tapi striker itu, pemain terbaik turnamen, mampu menjangkau bola guna menciptakan sejarah.Semua pemain lain mulai kelelahan ketika babak perpanjangan waktu tiba di Stadion Monumental, 25 Juni 1978, tapi penyerang jangkung Valencia itu tetap berdiri tegak dan meliuk-liuk melewati bek Belanda. "Dia pemain yang sanggup membuat perbedaan," puji pelatih Cesar Luis Menotti.
OPINI DARI ARGENTINA
Oleh Martin Seldes |
Goal Argentina Peran Kempes begitu penting karena dia tidak mencetak gol sama sekali di tiga laga awal. Setelahnya, dia mencetak dua gol ke gawang Polandia, Peru, dan Belanda di final. Hanya melawan Brasil, berakhir 0-0, dia tidak mencetak gol. Rahasianya, mencukur kumis.
"Kumis itu membawa nasib sial," ujarnya. "Pelatih Menotti bilang agar saya mencukurnya dan setelah itu saya langsung mencetak gol. Setelahnya, sepanjang sisa karier, saya selalu bercukur dua jam sebelum pertandingan."
Kempes tidak begitu terkenal seperti Maradona atau topskor lain karena dia begitu low profile. Mereka yang merayakan kemenangan 1978 masih mengingatnya dengan gembira, tapi ada pula yang berpikiran Kempes justru "membantu" rezim pemerintahan militer saat itu.
Saksikan momen Kempes di One Stadium Kempes memecah kebuntuan tujuh menit sebelum jeda dengan menyambar operan Leopold Luque guna menaklukkan Jan Jongbloed sekaligus mencetak gol kelimanya sepanjang turnamen. Pertandingan final berjalan panas. Belanda harus menunggu sampai lima menit di lapangan hingga akhirnya tim tuan rumah muncul dari kamar ganti untuk memulai pertandingan. Itupun tidak segera dimulai. Muncul protes karena perban yang dikenakan Rene van der Kerkhof di pergelangan tangannya. Alasannya, itu dapat memicu cedera pemain lain.Belanda melawan api dengan api. Tensi tinggi dimainkan di hadapan 70 ribu pasang mata yang memadati stadion di Buenos Aires. Belanda mampu menyamakan kedudukan di babak kedua ketika sundulan Dick Nanninga mendobrak kekokohan gawang Ubaldo Fillol.Rob Rensenbrink hampir saja mencetak gol kemenangan di akhir pertandingan. Tendangannya dari sudut sempit menghantam tiang. Argentina selamat. Kemudian setelah itu Kempes membawa mereka menuju kejayaan.Memasuki 14 menit babak pertama perpanjangan waktu, Kempes lepas dari jepitan dua pemain Belanda sebelum menundukkan Jongbloed. Itu gol keenamnya di turnamen dan menempatkannya sebagai topskor.Dia kemudian merancang gol ketiga Argentina dengan menusuk kotak penalti Belanda, melakukan kombinasi operan dengan Daniel Bertoni, menciptakan malapetaka di pertahanan lawan, hingga akhirnya Bertoni sukses melesakkan gol yang memastikan kemenangan Argentina.Kempes menjadi legenda Juni 1978 dan dia tetap rendah hati meski mendapat label sebagai pahlawan."Saya hanya salah satu dari banyak pemain yang menjadi bagian sejarah sepakbola Argentina," ujarnya. Sikap rendah hati Kempes tetap muncul empat tahun berselang. Nomor punggung tim diberikan berdasarkan urutan abjad dan Kempes mendapat nomor 10. Namun, melihat kemampuan seorang pemain muda bernama Diego Maradona, dia segera memberikan nomor keramat itu.Kunjungi
One Stadium - tujuan sepakbola untuk partner resmi Piala Dunia FIFA, Sony - yang merangkum arsip cuplikan dari pertandingan final Piala Dunia era modern.
Simak cuplikan Piala Dunia 1978 di website One Stadium Sony.Original Post by: http://www.goal.com/id-ID/news/6008/piala-dunia-sony/2014/03/15/4680777/momen-favorit-piala-dunia-anda-sepatu-emas-mario-kempes